Pada Saatnya,
Ketika musim berganti
Dan gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan pertama
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu
Pada Saatnya,
Di ujung perjalanan
Akan kubingkai binar matamu
Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit
ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak
membelai lembut kristal pasir pantai
Pada Saatnya,
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan cinta dipalung kalbu
Dan getar cumbu tak berkesudahan
Apa yang kau tangkap dari daun-daun gugur, kekasih?
Pada mulanya adalah hidup
kemudian adalah cinta
dan di penghujungnya adalah ajal
Tuhan bertitah dalam firman
nabi berujar dalam sabda
alam bertutur lewat desau angin dan daun-daun jatuh
Apa yang kau tangkap dari daun-daun yang bersalin warna, kekasih?
Hidup meraga dalam bentuk
cinta merupa dalam warna
dan maut menjemput bersama sang fana:
tak ada yang kekal dalam bentuk
tak ada yang purna dalam warna
Apa yang kau tangkap dari daun-daun yang berayun,
bagai berdansa bersama angin subuh,
lalu luruh,
rebah, berbaring di tanah basah, kekasih?
Ah, sebait lagu
mendayung rindu
melabuh cinta
di rahim sucimu….
Engkau pasti telah paham benar Domine
adakah karena engkau aku mau membatang arang jadi sisa-sisa api yang hendak padam
Aku mau bersia-sia susuri langit hinga ke tepi-tepinya
Aku mau bersia-sia susuri labirin-labirin tua yang tak pernah ada ujungnya
Aku mau bersia-sia susuri lautan yang tak pernah ada penghuninya
Tapi, hendak kemanakah langkahku Domine?
Kaki-kaki ini semakin tua dan tak sabar geram untuk segera jumpai akhir perjalanan
Tak bisa lagi aku nikmati luka perih yang tak tertawarkan
Tak bisa lagi aku nikmati hambar sebuah kesendirian
Yang aku ingin ternyata sepi bukan kesepian
Domine, aku mau pulang saja seekor merpati telah datang padaku tadi malam